Skip to main content
Tipe Yang Manakah Hati Kita ?
Hati
merupakan asas kebaikan seorang insan, maka selalu berusaha menjaga kesucian
hati agar tetap bersih dan selamat dari segala noda kekotoran.
Hati ini mudah berubah , sesuai dengan namanya . Kalau seorang insan tidak pandai-pandai
menjaga hatinya, bukan mustahil kesengsaran yang ia dapat. Begitu banyak orang
yang mengeluh bahwa hatinya gersang, selalu gundah, tidak tenang, dan ungkapan
beragam lainnya yang menggambarkan hatinya sedang sakit.
Oleh karena itu wahai saudaraku seiman, jagalah hati kita masing-masing,
bersihkan dari segala penyakit, obatilah hati dengan obat mujarab yang
bersumber dari wahyu Ilahi agar selamat dunia akherat.
Resapilah nasehat berikut ini dan renungkanlah dengan hati lapang dan bersih,
niscaya kedamaian dan ketenangan yang kita idamkan akan tercapai dengan ijin
Allah Tabaroka wa ta’ala. Allahul Musta’an.
Allah Azza wa Jalla berfirman : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu
tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan
dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya ( QS : Al Israa’ :
36 )
Peran hati bagi seluruh anggota badan ibarat raja bagi prajuritnya. Semua
bekerja berdasar perintahnya. Semua tunduk kepadanya . Karena perintah hatilah
istiqamah dan penyelewengan ada. Begitu pula dengan semangat untuk bekerja .
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : Ketahuilah , didalam tubuh
itu ada segumpal daging. Bila ia baik, maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan
apabila ia rusak maka rusak pulalah seluruh tubuh, ketauilah itu adalah hati. (
HR Bukhari ( al Iman I/126 ) dan Muslim ( Al Musaaqaat XI/26 ) Keduanya
meriwayatkan dari Nu’man bin Basyir.
Hati adalah raja , seluruh tubuh adalah pelaksana titah-titahnya , siap
menerima hadiah apa saja. Aktivitasnya tidak dinilai benar jika tidak diniatkan
dan dimaksudkan oleh sang hati. Dikemudian hari , hati akan ditanya tentang
para prajuritnya , Sebab setiap pemimpin itu bertanggung jawab atas yang
dipimpinnya.
Maka, pembenaran dan pelurusan hati merupakan perkara yang paling utama untuk
diseriusi oleh orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah Azza wa Jalla.
Demikian pula mengkaji penyakit-penyakit hati dan metode mengobatinya merupakan
bentuk ibadah yang utama bagi ahli ibadah.
Aqsaamul Quluub ( Macam-macam Hati )
Hati itu bisa hidup dan bisa mati. Sehubungan dengan itu, hati dapat
dikelompokkan menjadi:
1. Hati yang sehat ( Al Qolbu Ash shokhikhu Au Al Qolbu As saliimu )
2. Hati yang mati ( Al Qolbu Al Mayyitu )
3. Hati yang sakit ( Al Qolbu Al mariidhu )
Hati yang sehat adalah hati yang selamat. Pada hari kiamat nanti, barangsiapa
menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa membawanya tidak akan selamat. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Adalah hari yang mana harta dan anak-anak tidak
bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.”
(QS Asy-Syu’ara: 88-89).
(Wa qiila fiy ta’riifihi : Innahu Al Qolbu Alladzi salimun min kully syahwatin
tukhoolifu amru Allah wanahiihu, wamin kully syubhatin ta’aaridhu khoyrohu) :
Hati yang selamat didefinisikan sebagai hati yang terbebas dari setiap syahwat,
keinginan yang bertentangan dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dari
setiap syubhat, ketidakjelasan yang menyeleweng dari kebenaran. Hati ini
selamat dari beribadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berhukum
kepada selain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam .
Ubudiyahnya murni kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Iradahnya, mahabbahnya,
inabahnya, ikhbatnya, khasyyahnya, roja’nya, dan amalnya, semuanya lillah, karenaNya.
Jika ia mencintai, membenci, memberi, dan menahan diri, semuanya karena Allah
Subhanahu wa Ta’ala . Ini saja tidak dirasa cukup. Sehingga ia benar-benar
terbebas dari sikap tunduk dan berhukum kepada selain Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam .
Hatinya telah terikat kepadanya dengan ikatan yang kuat untuk menjadikannya
sebagai satu-satunya panutan, dalam perkataan dan perbuatan. Ia tidak akan
berani bersikap lancang, mendahuluinya dalam hal aqidah, perkataan atau pun
perbuatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang
beriman, Janganlah kalian bersikap lancang (mendahului) Allah dan RasulNya, dan
bertaqwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.” (QS Al Hujurat : 1)
Hati yang mati adalah hati yang tidak mengenal siapa Rabbnya. Ia tidak
beribadah kepadaNya dengan menjalankan perintahNya atau menghadirkan sesuatu
yang dicintai dan diridlaiNya. Hati model ini selalu berjalan bersama hawa
nafsu dan kenikmatan duniawi, walaupun itu dibenci dan dimurkai oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala . Ia tidak peduli dengan keridlaan atau kemurkaan Allah
Subhanahu wa Ta’ala . Baginya, yang penting adalah memenuhi keinginan hawa
nafsu. Ia menghamba kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala . Jika ia mencinta,
membenci, memberi, dan menahan diri, semuanya karena hawa nafsu. Hawa nafsu
telah menguasainya dan lebih ia cintai daripada keridlaan Allah Subhanahu wa
Ta’ala.
Hawa nafsu telah menjadi pemimpin dan pengendali baginya. Kebodohan adalah
sopirnya, dan kelalaian adalah kendaraan baginya. Seluruh pikirannya dicurahkan
untuk menggapai target-target duniawi. Ia diseru kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala dan negeri akhirat, tetapi ia berada di tempat yang jauh sehingga ia
tidak menyambutnya. Bahkan ia mengikuti setiap setan yang sesat. Hawa nafsu
telah menjadikannya tuli dan buta selain kepada kebatilan.[1]
Bergaul dengan orang yang hatinya mati ini adalah penyakit, berteman dengannya
adalah racun, dan bermajlis dengan mereka adalah bencana. Hati yang sakit
adalah hati yang hidup namun mengandung penyakit. Ia akan mengikuti unsur yang
kuat. Kadang-kadang ia cenderung kepada ‘kehidupan’, dan kadang-kadang pula
cenderung kepada ‘penyakit’. Padanya ada kecintaan, keimanan, keikhlasan, dan
tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , yang merupakan sumber kehidupannya.
Padanya pula ada kecintaan dan ketamakan terhadap syahwat, hasad[2], kibr[3],
dan sifat ujub, yang merupakan sumber bencana dan kehancurannya. Ia ada
diantara dua penyeru; penyeru kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rsul
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan hari akhir, dan penyeru kepada kehidupan
duniawi. Seruan yang akan disambutnya adalah seruan yang paling dekat, paling
akrab.
Demikianlah, hati yang pertama adalah hati yang hidup, khusyu’, tawadlu’,
lembut dan selalu berjaga. Hati yang kedua adalah hati yang gersang dan mati,
Hati yang ketiga adalah hati yang sakit, kadang-kadang dekat kepada keselamatan
dan kadang-kadang dekat kepada kebinasaan. ‘Alaamatu maridhul Qolbi wa shikhati
( Indikasi Sakit-Sehatnya Hati ) :
Hati seseorang itu bisa sakit . Sakitnya bisa semakin parah dan ia tidak
menyadarinya. Bahkan bisa jadi hati telah mati, tanpa disadari pemiliknya.
Pertanda hati itu sakit atau telah mati adalah : ia tidak lagi dapat merasakan
sakitnya bermaksiat dan betapa menderitanya berada dalam kebodohan tentang
kebenaran serta memiliki aqidah yang menyimpang. Sebab hati yang hidup pasti
tersiksa bila melakukan perbuatan buruk. Begitu pula jika ia bodoh tentang
kebenaran.
Terkadang seseorang yang memiliki hati yang sakit dapat merasakan penyakitnya.
Namun ia tidak tahan mengecap pahitnya obat penawar. Dan ia pun lebih memilih
menderita penyakit untuk selamanya.
Diantara tanda sakitnya hati , adalah keengganan mengkosumsi makanan yang
bermanfa’at. Justru cenderung kepada yang mendatangkan mudhorot . Juga enggan
terhadap obat yang berguna dan cenderung kepada penyakit yang berbahaya.
Hati yang sehat selalu mengutamakan ” makanan ” yang bermanfa’at daripada racun
yang mematikan . Makanan terbaik adalah keimanan, obat terbaik adalah Al
Qur’an.
Adapun tanda sehatnya hati adalah ” Kepergiannya dari dunia menuju kenegeri
Akherat. Disana ia tinggal dan seakan-akan menjadi penghuninya. Kehadiran di
dunia ini ibarat orang asing yang mengambil kebutuhannya , lalu kembali
kenegerinya. Kepada Abdullah bin Umar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
berpesan :
Kun fiyd dunyaa kaannakaa ghoriibun Au ‘ Aabiru sabiilin ( Didunia ini ,
hendaknya kamu berlaku seperti orang asing, atau orang yang lewat ) HR Bukahri
( Ar Raqa’iq I/233 )
Tanda sehatnya hati adalah : selalu mengingatkan siempunya, sehingga ia mau
kembali kejalan Allah Tabaroka wa Ta’ala tunduk dan bergantung kepadaNya
seperti bergantungnya seorang yang mencinta kepada yang dicintainya. Ia hanya
butuh cintaNya . Ia selalu berdzikir dan berkhidmat kepadanya.
Tanda sehatnya hati adalah : Jika si empunya hati ketinggalan atau tidak sempat
melaksanakan Dzikir ( bacaan rutin berupa dzikir atau membaca Al qur’an,
mentadaburinya dan mengamalkannya) atau suatu ibadah , ia akan merasa sakit dan
tersiksa melebihi orang kaya yang kehilanagan harta.
( Sebab-sebab sakitnya Hati )
Wal fitanu allatiy tu’ridho alaa al quluubi hiyaa asbaabu marodhohaa wahiyaa :
Fitanu Asy Syahwaatu wa Syubhaatu .
Musibah yang menimpa dan menyebabkan sakitnya hati ada dua : Musibah Syahwat
yang merusak niat dan iradah dan Musibah Syubhat yang merusak ilmu dan I’tiqad.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Musibah ( Fitnah ) itu
masuk kedalam hati seperti dianyamnya tikar, sehelai demi sehelai . Hati manapun
yang menerimanya akan tertitiklah padanya setitik noda hitam. Hati manapun yang
menolaknya akan tertitiklah padanya setitik cahaya putih. Akhirnya hati akan
terbagi menjadi dua , hati yang hitam legam cekung seperti gayung yang
terbalik, tidak mengenal kebaikan , tidak pula mengingkari kemungkaran , selain
yang dikehendaki oleh hawa nafsunya, dan hati putih bercahaya yang tidak akan
tertimpa mudharot fitnah , selama langit dan bumi masih ada. ( HR Muslim , Al
Iman II/170 dengan lafaz yang berbeda )
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengelopokkan hati ketika tertimpa
musibah fitnah menjadi Dua :
Pertama : Hati yang selalu menyerapnya seperti spounge ( bunga karang yang
seperti menyerap air ) Mak tertitiklah padanya setitik noda hitam . Demikian seterusnya
sehingga hati itu menjadi hitam dan terbalik. Inilah yang dimaksud Tamsil
beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ” Seperti gayung yang terbalik ” Jika
telah hitam dan terbalik maka akan datanglah dua penyakit yang sangat berbahaya
yang akan menghantarkan kejurang kehancuran.
1. Tercampur aduknya kebaikan dan kemungkaran, sehingga ia tidak lagi
mengenalinya. Bahkan mungkin ia akan dikuasai oleh penyakit ini, sehingga ia
meyakini kemungkaran sebagai kebenaran atau kebaikan , dan kebaikan adalah
sebagai kemungkaran, Sunnah sebagai bid’ah dan bid’ah sebagai sunnah, kebenaran
sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai kebenaran.
2. Menjadikan hawa nafsu sebagai hakim , pemimpin dan panutan dan meninggalkan
semua yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Kedua : Hati yang putih bercahaya dengan cahaya Iman. Jika musibah fitnah
datang, iapun mengingkari dan menolaknya , sehingga ia pun semakin bersinar
bercahaya.
———————
Catatan Kaki
[1] Disebutkan dalam sebuah hadits, “Cintamu kepada sesuatu akan membutakanmu
dan menulikanmu,” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Al Adab XIV/38 secara
marfu’dan oleh Imam Ahmad dalam Musnad V /194 secara marfu’, juga VI/450 secara
mauquf. Semuanya dari Abu Darda’. Abu Dawud tidak mengomentari hadits ini.
Namun sebagian ulama menghasankannya, dan sebagian yang lain mendlaif-kannya.
2 Hasad atau dengki adalah sikap tidak suka melihat orang lain mendapat nikmat
dan mengharapkan nikmat itu lenyap darinya.
3 Kibr atau sombong adalah menganggap remeh orang lain. Rasulullah bersabda,
Kibr itu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” HR. Muslim II/89
Comments
Post a Comment